Jumat, 13 Mei 2016

Awal Itu Bagian Dari Akhir

Dalam malam aku merasa sendiri. Rintikan hujan terdengar deras di kedua pendengaranku. Sesekali aku membuka mata, hanya gelap yang bisa kulihat. Di heningnya malam, aku sedikit merenung mengingat apa saja yang telah ku lewati selama ini. Mungkin waktu takkan bisa terulang kembali. Dimana kala kita merasa adanya setitik penyesalan di perjalanan hidup ini. Kita ingin semua kesalahan yang telah kita perbuat bisa diperbaiki dengan terulangnya waktu itu, dan segera mengubah apa yang telah terjadi.
          Mungkin itu yang sedang aku rasakan saat ini, dimana aku ingin mengulang waktu untuk memperbaiki atau mengubah kesalahan yang telah aku perbuat.. Yaitu mencintainya…
          Cinta memang tidak bisa kita ketahui kapan datangnya, dan kapan perginya. Ketika kita berusaha untuk melupakannya, rasa itu akan semakin dalam. Dingin dimalam itu benar2 terasa. Suasananya bnar2 hening tanpa suara. Perlahan air mataku menetes tanpa aku menyadarinya. Perlahan lembaran2 itu kembali terbuka dari ingatanku. Akupun terdiam, diam dalam ingatan yang tak akan pernah kulupakan.
          Pagi itu terasa sangat indah, ketika aku melangkahkan kaki menyambut hari pertama aku menduduki bangku SMA. Langkah demi langkah aku berjalan dengan memandang jalan disekitar sekolah. Pemandangannya sangat indah. Dikiri kananku berjajar rapi pohon cemara dan pohon beringin yang rindang. Ini sungguh indahku pandang. Aku benar-benar menikmati perjalanan ini. Sungguh indah ciptaan yang tuhan ciptakan. Aku mengagumi ciptaanmu tuhan. Ini benar-benar indah bagiku. Waktu itu tak inginku lewati terlalu cepat. Walau pagi itu terasa sedikit sepi. Haa!! Sedikit sepi?  Ini memang bener-bener sepi. Aku memang bener2 heran melihat jalanan yang sepi dan,
“hmmm… sekolahnya sunyi ya..!!”. terdengar suara yang sangat asing dipendengaranku.
 Sekerjap aku menoleh heran ke sumber suara asing itu. Sejenak aku terdiam dan mendapati sosok pria tinggi dengan rambut sedikit bergelombang, berwarna sedikit pirang,dengan menggunakan jam tangan berwarna hitam yang berdiri dan tersenyum tipis padaku. Aku tersentak, ketika melihat senyuman pria yang dilengan kanannya bergantung tas berwarna coklat itu, waktu terasa terhenti sejenak. Senyum itu. Apa itu senyum? semua terasa beda, terasa nyaman, jantungku, kenapa berdetak lebih cepat dari biasanya.
 “Indahh,..!!” kata itu tiba-tiba terucap dari bibir tipisku.
Tanpa sadar pria yang dihadapanku memandang heran dengan alisnya yang mengerut.
 “Apa??”.
Tersadar pandangan heran sedang menatapku, aku tersentak dan dengan cepatnya aku membungkam mulutku  dan membalas senyum tipisnya.
 “tidak apa”.
          Senyum yang tadinya tipispun melebar. Perlahan kami berjalan menuju sekolah, yang lumayan jauh dari jalan raya. Berjalan berdua tanpa ada seorangpun disana. Hanya berdua. Sesekali aku memandang pria yang berada tepat disebelahku.
          Ada apa ini. Aku sungguh tak mengerti. Jalanan yang sepi dan indah, terasa lebih indah disaat ia beriringan denganku. Aneh memang melihat kami yang berjalan berdua tanpa seorangpun. Dan kamipun tidak saling mengenal satu sama lain. Dan aku merasa beda.
 INDAH, itulah satu kata yang bisa aku ucapkan ketika melihatnya. Aku hanya menundundukkan kepala. Dan sesekali aku menatapnya cepat. Diapun sesekali menoleh kearahku dan menyunggingkan senyumnya. Kami berjalan sangat pelan, seakan sedang menikmati keindahan alam. Langkah demi langkah kami berjalan dalam keheningan. Diam dan hanya diam, diapun juga Cuma diam, dan diapun masih saja berjalan disampingku. aku bingung aku harus bicara apa. Apa aku menyakan namanya dulu, atau menunggu dia menanyakan namaku. Apa aku harus berbasa-basi dulu atau bagaimana.
          Tuhan, aku harus apa?? Apa aku harus diam saja atau bagaimana. Aku bener-bener gak tau. Perjalanan ini benar-benar trasa aneh. Dia berjalan tepat di sebelahku, tapi dia tak berkata apapun. Hanya diam dan diam.
Karna bosan dengan hal ini, aku memutuskan untuk jalan mendahuluinya. Dia tetap diam, dan hanya diam. Aku memperhatikannya samar dari depan. Dia masih saja diam. Tak lama kemudian aku pun memutuskan untuk mempercepat langkahku. Perlahan sosok itu jauh dibelakangku. Aku berencana mengabaikan pria itu. Tapi tiba-tiba terdengar nada pesan masuk dari ponsel pria dibelakangku. Tapi memutuskan untuk jalan lebih cepat lagi.
          Tiba-tiba dari belakang terdengar suara hentak kaki yang semakin dekat. Lama-lama semakin dekat, dekat, dan dekat. Ya, itu suara kaki orang yang sedang berlari. Ketika hendak menoleh kebelakang, tiba-tiba tangan hangat itu menarikku.
Ya, tangan itu menarikku, dia menarikku dalam langkahnya. Langkah yang terasa sangat indah. Senyum itu. Terlihat lagi olehku, aku menatapnya heran. Iyapun tersenyum lagi padaku, senyuman yang membuatku seperti terhipnotis. Ya, senyuman itu. Itu dia yang dari tadi slalu inginku lihat. “Indah” itulah kata yang keluar dari mulutku pertama kali melihatnya.
Kami berlari dengan kesenangan yang aku tidak mengerti itu apa. Berlari di waktu  yang tidak terlalu aku mengerti. Waktu itu, apakah bisa kuulangi lagi. Tiba-tiba langkah itu terhenti. Dan pandanganku tak terpalingkan padanya. “kamu masih sanggup”.
kalimat itu terdengar samar olehku, namun tak kuhiraukan. Sekali lagi,
“apa kamu masih sanggup berlari?”.
 Ini sedikit jelas terdengar olehku, dengan tersentak aku memalingkan pandanganku, namun kupandang lagi dengan heran.
 “kenapa??”.
Tiba-tiba senyum tipis itu berubah menjadi tawa kecil yang masih saja Indah dimataku.
“apa kamu tidak sadar?”.
aku menoleh sejenak kebelakangku, apa ada sesuatu disana. Namun tawa indah itu kembali terdengar olehku. “tidakkah kamu sadar, kita udah telat.” Kembali senyum itu membuatkku terdiam. Akupun membalas senyumannya dan,  “haaaaa??” tersadar dengan perkataannya akupun menolehkan kepala kesekitarku. Dan lagi, tangan hangat itu mengenggam erat tanganku.
“Ayokk”.
Kamipun berlari bersama.
Dongeng.. apa ini dongeng atau ini mimpi?
Sejenak aku berfikir ini adalah mimpi, namun fikiran itu terbuyarkan oleh suara yang cukup keras.
 “hey kamu anak baru, cepat kesini.”
Akupun menoleh kekanan dan kekiri berharap yang dipanggil itu bukan aku. Namun nyatanya,
 “kamu yang cewek lagi liat kiri kanan”.
 Akupun tertunduk berjalan menuju barisan kakak senior yang terlihat sedikit sadis dimataku.
 “kamu tau kan salah kamu apa?”
 Akupun hanya tertunduk ketika pertanyaan itu menyerang telingaku.
 Blaa.. blaa.. blaaa.. ceramahan itu hanya terdengar samar olehku. Sesekali aku menoleh kebarisan pria yang tepat berbaris disebelah kananku. Berharap bisa melihatnya. Iya, dia yang membuat hari pertama aku menduduki bangku SMA menjadi indah. Berharap bisa melihatnya, akupun berdiri menginjitkan kakiku. Manaa,, dia dimanaa?? Aku tak dapat menangkap sosok malaikat penghipnotis itu.
Kecewa tak bisa melihatnya, akupun duduk dengan meninggikan lutut yang dilingkari tanganku. “kamu mau cari siapa?”. Pertanyaan itu terdengar jelas di telinga kiriku. Spontan aku menoleh kearah suara itu, dan kudapati sosoknya yang putih, sedang memandang heran barisan cowok yang ada di sebelah kananku. “apa kamu mencari seseorang?” satu pertanyaan lagi terdengar merdu ditelingaku. Akupun langsung menggeleng spontan ketika senyum itu hadir di akhir pertanyaannya. Akupun menundukkan kepalaku malu. Perlahan ku pandangi sosok pria itu. Pria yang benar-benar membuatku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya diam, ketika sosok yang nyaman itu duduk di sebelahku dengan senyuman penghipnotisnya.
Tuhan, siapa dia?? Apa dia adalah malaikat yang kau kirim untukku. Terbuat dari apa dia yang bisa membuatku merasa tertarik untuk memandanginya. Cahaya apa yang ada didirinya yang membuat mataku berbinar indah ketika melihatnya. Ada apa denganku? Apa yang terjadi padaku? Apa aku jatuh CINTA?? Sejenak pertanyaan-pertanyaan itu terucap manis dibatinku. Tersadar senyum itu masih memandangku, akupun menundukkan kepalaku.
“hmm.. apa kamu lelah?”
pertanyaan itu terdengar lembut di telingaku. Mungkin aku sedikit heran, dari tadi kami bersama, apa tidak ada sedikitpun terniat olehnya untuk mengetahui namaku??.
“ya, aku sedikit lelah”
 Akupun membalas senyum manisnya yang sedari tadi bersungging dihadapanku. Keheninganpun hadir lagi, dan itu membuatku merasa bosan.
 “hmm, aku Cand, Candy Alexander. Siapa namamu?”
 Dengan senyum hipnotisnya, iya menyodorkanku permen tangkai rasa strobery. Ini, ini dia yang sedari tadi aku tunggu. Ini dia, akhirnya pertanyaan itu terucap dari pemilik senyum penghipnotis itu. Akupun menyunggingkan senyuman dengan lebar padanya.
“than’s.. Aku Jea, Jea Candya”
 sambil membuka bungkus permen strobery yang dia beri padaku.
 “nama yang manis”
Dengan senyum penghipnotisnya, ia menatapku dalam. Aku terdiam dalam senyuman yang hangat itu.
 Entah kenapa aku merasa nyaman dengannya. Tidak biasanya aku merasa nyaman dengan seseorang yang baru saja aku kenal. Waktu SD dan SMP, aku tak pernah merasa senyaman ini dengan seseorang yang baru saja aku kenal. Selain Jeby, sahabat karibku dari kecil dan kakakku Jeo, tidak ada lagi yang bisa membuatku merasa nyaman. Aku memang susah untuk bergaul dengan teman pria, dari kecil aku takut dengan yang namanya pria. Mungkin itu karena Ayah. ketika aku masih berumur 3 tahun, waktu ayah masih bersamaku.
Ayah sering memukuli ibuku. Entah kenapa, aku menjadi takut dengan yang namanya pria. Terakhir ayah memukuli ibu adalah saat aku berumur 4 tahun, semenjak ia memukul ibu untuk yang terakhir kalinya itu, ia pergi dan sampai sekarang tidak pernah kembali. Sekarang aku tinggal dengan ibu dan kakak lelakiku. Kakakku itulah yang menjadi ayah skaligus kakakku saat ini. Selain Jeby dan kak Jeo, tidak ada lagi pria yang dekat denganku. Dan sekarang, Dia….!!.
Sejenak kami larut dalam keheningan, dan tiba-tiba keheningan itu terbuyarkan oleh tawa kecil dari senyuman penghipnotis itu.
 “Jea Candya, Candy Alexander. Apa ini pendapatku saja? Kalau nama kita ada sedikit kemiripan, hmm??” dengan alis sedikit meyakinkan ia melihat kearahku.
 Akupun terdiam dan berfikir lebih dalam. Kalau difikir, nama kami emang ada sedikit kemiripan, Candy Alexander & Jea Candya. Kalau hanya ada nama belakangku, dan itu tidak ditambah huruf A, dia akan menjadi Candy, dan Candy Alexander, jika Candy ditambah Huruf A yang brasal dari nama belakangnya Alexander akan menjadi Candya. Ini memang bukan rekayasa, apa mungkin ini Cuma kebetulan atau bagaimana?.
 “hmm.. kalo aku fikir-fikir, nama kita memang sedikit ada kemiripan”
akupun membalas tawanya. Saat ini aku ingin berfikir lebih dalam lagi, dalam hati aku bertanya-tanya. “Siapa dia, siapa pria yang punya senyum indah didepanku ini. Siapa dia yang membuatku merasa nyaman ini. Apakah mungkin dia malaikat. Siapa dia, oh Tuhan siapa dia.
Jeby, hah!! Jeby mana. Tiba2 terlintas difikiranku nama itu. Akupun melihat kiri kananku, berharap bisa melihat sosok pria tinggi kuning langsat itu. Jeby sekarang satu sekolah denganku, SD aku juga satu sekolah dengannya dan itupun satu kelas. Waktu itu, aku menagis meminta untuk satu kelas dengannya. Mungkin sedikit berlebihan, tapi waktu itu aku memang menangis tersedu-sedu untuk bisa satu kelas dengannya. Tapi, ketika kami lulus SD, Jeby lulus disekolah terfavorit. Dan aku, lulus disekolah yang berbeda. Dan sekarang, kami bertemu lagi.
Ting.. ting.. ting..!!
Nada pesan masuk HP ku. Akupun segera memencet tombol baca.
“hey, nyariin gua ya?? Haha”
Akupun mencari sosoknya dengan kesal.
“ishh.. Lo mau gua gigit? Lo dimana woy? Gua kangen nih”
Nada pesankupun berbunyi lagi.
“ciee.. cie.. udah bisa dekat ama cowok ya?”
Dengan cepat aku mengetik pesan, dan mungkin pria disebelahku tertawa melihatku.
“woy, gua Tanya lu dimana. Cepat kasih tau gua”
Sudah beberapa menit,nada pesanku tidak berbunyi lagi. Ini memang menyebalkan.
Tapi.. sejenak aku melihatnya lagi, menatap tiap geraknya. Mencoba untuk mendengar desah nafasnya. Dia, ada dia disini. Dia tepat disebelahku. Tapi dia. Pertanyaankupun teringat lagi. Dia siapa. Siapa dia.
Akupun hening, dan. . .
“ini gua”
 Jeby, seperti biasa dia mengagetkanku. Ini sungguh menyebalkan. Jeby selalu begitu, dengan khasnya yang sok cool dia mengagetkanku.  Jeby pun duduk disebelahku.
“lo tadi dimana?”
 Jeby tidak segera menjawab pertanyaanku, dia menatap pria disampingku yang sedang melihat murid-murid yang sedang dihukum dengan raut muka menggoda.
“dia temanku”
 Cand pun melihat heran padaku, dan ketika mendapati Jeby disebelahku, diapun tersenyum lebar padanya. Dan seperti biasa, senyum itu menghipnotisku lagi dan lagi. Ia pun mengulurkan tangannya ke pria rambut lurus disebelahku.
 “Cand”
 Jeby pun meraih tangan pria yang mengenakan jam tangan hitam itu.
 “Jeby”
 merekapun saling membalas senyum.
 “gua sahabat gadis permen ini, haha”
diapun tertawa keras. Huah,.. ini memang sedikit menyebalkan. Aku dibilang gadis permen. Tapi aku memang suka permen. Ditasku slalu ada permen, cemilan yang paling aku suka memang Cuma permen. Pada coklat aku tak terlalu suka. Karna rasanya yang agak pahit. Selain permen aku suka keju. Tapi rasa keju tak seenak permen kesukaanku.
“apa dia pecinta permen? Sampai namanya gadis permen?”
Tawa itu, huahh.. membuatku tersenyum dengan sendirinya.
“yap. Dia bukan hanya cinta. Mungkin tanpa ada permen dia tak hidup. Haha”
Jeby mencorotoskan mulutnya untuk mengejekku. Rasanya pengen aku gigit tangannya yang sedang mengelus kepalaku. Jeby memang suka memegang kepalaku, seakan-akan aku adiknya yang manis dan imut, hehe.
“ishh,.. dasar tukang tidur”
Akupun membalas ejekannya dengan kesal.
”hmm.. ternyata begitu ya.!”
 Suara pelan itu keluar dari mulut pria penghipnotis itu.
“begitu apanya? Apa kamu juga mau mengejekku?”
 dengan kesalnya aku mencerotos tak tentu. Tiba-tiba tangan hangat itu, mengusap kepalaku. Hah.. tangan hangat itu, membuat darahku seakan membeku dikala ia menyentuhku. Aku terdiam melihat senyumnya. Selalu saja senyum itu yang bisa merubahku hari ini. Beberapa detik kemudian.
“aku juga sama sepertimu”
 Iapun tidak meneruskan perkataannya yang membuatku penasaran.
 “sama sepertiku?”.
 Dengan polosnya aku menatapnya dalam. Diapun tersenyum lebar padaku. Aku masih saja menatapnya dengan heran.
Iapun membuka tas yang ada dipangkuannya.
 “ini”
 Dengan senyum khasnya, ia mengeluarkan beberapa permen tangkai yang biasanya juga ada di tasku. Akupun tersenyum lebar melihatnya. Waktu yang ku rasakan saat ini, tak inginku lewatkan begitu saja. Waktu ini, ingin ku ulang, ulang dan ulangi. Dia yang membuat waktuku terasa berhenti. Berhenti saat aku menatapnya. Apa ini yang namanya cinta? apa aku sedang jatuh cinta?. Jika itu memang cinta, mungkinkah ini hanya sementara.?


“Selamat Pagi semua Perkenalkan nama saya ..”


7 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  2. Ditunggu kisah selanjutnya... :)

    BalasHapus
  3. Menginspirasi saya dalam membuat tugas puisi saya.. terimakasih sis..

    BalasHapus
  4. ditunggu postingan selanjutnya

    BalasHapus
  5. romantis banget mbak,,
    ditunggu postingan selanjutnya..

    BalasHapus
  6. bagus...
    di tunggu postingan selanjutnya...

    BalasHapus
  7. like jejen :-*
    di tunggu cerita selanjutnya,,,
    OK (y)

    BalasHapus