Dalam malam
aku merasa sendiri. Rintikan hujan terdengar deras di kedua pendengaranku.
Sesekali aku membuka mata, hanya gelap yang bisa kulihat. Di heningnya malam,
aku sedikit merenung mengingat apa saja yang telah ku lewati selama ini. Mungkin
waktu takkan bisa terulang kembali. Dimana kala kita merasa adanya setitik
penyesalan di perjalanan hidup ini. Kita ingin semua kesalahan yang telah kita
perbuat bisa diperbaiki dengan terulangnya waktu itu, dan segera mengubah apa
yang telah terjadi.
Mungkin itu yang sedang aku rasakan saat ini, dimana aku
ingin mengulang waktu untuk memperbaiki atau mengubah kesalahan yang telah aku
perbuat.. Yaitu mencintainya…
Cinta memang tidak bisa kita ketahui
kapan datangnya, dan kapan perginya. Ketika kita berusaha untuk melupakannya,
rasa itu akan semakin dalam. Dingin dimalam itu benar2 terasa. Suasananya bnar2
hening tanpa suara. Perlahan air mataku menetes tanpa aku menyadarinya.
Perlahan lembaran2 itu kembali terbuka dari ingatanku. Akupun terdiam, diam
dalam ingatan yang tak akan pernah kulupakan.
Pagi itu terasa sangat indah, ketika aku melangkahkan kaki
menyambut hari pertama aku menduduki bangku SMA. Langkah demi langkah aku
berjalan dengan memandang jalan disekitar sekolah. Pemandangannya sangat indah.
Dikiri kananku berjajar rapi pohon cemara dan pohon beringin yang rindang. Ini
sungguh indahku pandang. Aku benar-benar menikmati perjalanan ini. Sungguh
indah ciptaan yang tuhan ciptakan. Aku mengagumi ciptaanmu tuhan. Ini
benar-benar indah bagiku. Waktu itu tak inginku lewati terlalu cepat. Walau
pagi itu terasa sedikit sepi. Haa!! Sedikit sepi? Ini memang bener-bener sepi. Aku memang
bener2 heran melihat jalanan yang sepi dan,
“hmmm… sekolahnya
sunyi ya..!!”. terdengar suara yang sangat asing dipendengaranku.
Sekerjap aku menoleh heran ke sumber suara
asing itu. Sejenak aku terdiam dan mendapati sosok pria tinggi dengan rambut
sedikit bergelombang, berwarna sedikit pirang,dengan menggunakan jam tangan
berwarna hitam yang berdiri dan tersenyum tipis padaku. Aku tersentak, ketika
melihat senyuman pria yang dilengan kanannya bergantung tas berwarna coklat
itu, waktu terasa terhenti sejenak. Senyum itu. Apa itu senyum? semua terasa
beda, terasa nyaman, jantungku, kenapa berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Indahh,..!!” kata itu tiba-tiba terucap dari
bibir tipisku.
Tanpa sadar
pria yang dihadapanku memandang heran dengan alisnya yang mengerut.
“Apa??”.
Tersadar
pandangan heran sedang menatapku, aku tersentak dan dengan cepatnya aku
membungkam mulutku dan membalas senyum
tipisnya.
“tidak apa”.
Senyum yang tadinya tipispun melebar. Perlahan kami
berjalan menuju sekolah, yang lumayan jauh dari jalan raya. Berjalan berdua
tanpa ada seorangpun disana. Hanya berdua. Sesekali aku memandang pria yang
berada tepat disebelahku.
Ada apa ini. Aku sungguh tak mengerti. Jalanan yang sepi
dan indah, terasa lebih indah disaat ia beriringan denganku. Aneh memang
melihat kami yang berjalan berdua tanpa seorangpun. Dan kamipun tidak saling
mengenal satu sama lain. Dan aku merasa beda.
INDAH, itulah satu kata yang bisa aku ucapkan
ketika melihatnya. Aku hanya menundundukkan kepala. Dan sesekali aku menatapnya
cepat. Diapun sesekali menoleh kearahku dan menyunggingkan senyumnya. Kami
berjalan sangat pelan, seakan sedang menikmati keindahan alam. Langkah demi
langkah kami berjalan dalam keheningan. Diam dan hanya diam, diapun juga Cuma
diam, dan diapun masih saja berjalan disampingku. aku bingung aku harus bicara
apa. Apa aku menyakan namanya dulu, atau menunggu dia menanyakan namaku. Apa
aku harus berbasa-basi dulu atau bagaimana.
Tuhan, aku harus apa?? Apa aku harus diam saja atau
bagaimana. Aku bener-bener gak tau. Perjalanan ini benar-benar trasa aneh. Dia
berjalan tepat di sebelahku, tapi dia tak berkata apapun. Hanya diam dan diam.
Karna bosan
dengan hal ini, aku memutuskan untuk jalan mendahuluinya. Dia tetap diam, dan
hanya diam. Aku memperhatikannya samar dari depan. Dia masih saja diam. Tak
lama kemudian aku pun memutuskan untuk mempercepat langkahku. Perlahan sosok
itu jauh dibelakangku. Aku berencana mengabaikan pria itu. Tapi tiba-tiba
terdengar nada pesan masuk dari ponsel pria dibelakangku. Tapi memutuskan untuk
jalan lebih cepat lagi.
Tiba-tiba dari belakang terdengar suara hentak kaki yang
semakin dekat. Lama-lama semakin dekat, dekat, dan dekat. Ya, itu suara kaki
orang yang sedang berlari. Ketika hendak menoleh kebelakang, tiba-tiba tangan
hangat itu menarikku.
Ya, tangan
itu menarikku, dia menarikku dalam langkahnya. Langkah yang terasa sangat
indah. Senyum itu. Terlihat lagi olehku, aku menatapnya heran. Iyapun tersenyum
lagi padaku, senyuman yang membuatku seperti terhipnotis. Ya, senyuman itu. Itu
dia yang dari tadi slalu inginku lihat. “Indah” itulah kata yang keluar dari
mulutku pertama kali melihatnya.
Kami berlari dengan
kesenangan yang aku tidak mengerti itu apa. Berlari di waktu yang tidak terlalu aku mengerti. Waktu itu,
apakah bisa kuulangi lagi. Tiba-tiba langkah itu terhenti. Dan pandanganku tak
terpalingkan padanya. “kamu masih sanggup”.
kalimat itu terdengar samar olehku, namun tak kuhiraukan. Sekali lagi,
kalimat itu terdengar samar olehku, namun tak kuhiraukan. Sekali lagi,
“apa kamu masih sanggup
berlari?”.
Ini sedikit jelas terdengar olehku, dengan
tersentak aku memalingkan pandanganku, namun kupandang lagi dengan heran.
“kenapa??”.
Tiba-tiba senyum tipis itu
berubah menjadi tawa kecil yang masih saja Indah dimataku.
“apa kamu tidak sadar?”.
aku menoleh sejenak kebelakangku, apa ada sesuatu disana. Namun tawa indah itu kembali terdengar olehku. “tidakkah kamu sadar, kita udah telat.” Kembali senyum itu membuatkku terdiam. Akupun membalas senyumannya dan, “haaaaa??” tersadar dengan perkataannya akupun menolehkan kepala kesekitarku. Dan lagi, tangan hangat itu mengenggam erat tanganku.
aku menoleh sejenak kebelakangku, apa ada sesuatu disana. Namun tawa indah itu kembali terdengar olehku. “tidakkah kamu sadar, kita udah telat.” Kembali senyum itu membuatkku terdiam. Akupun membalas senyumannya dan, “haaaaa??” tersadar dengan perkataannya akupun menolehkan kepala kesekitarku. Dan lagi, tangan hangat itu mengenggam erat tanganku.
“Ayokk”.
Kamipun
berlari bersama.
Dongeng..
apa ini dongeng atau ini mimpi?
Sejenak aku
berfikir ini adalah mimpi, namun fikiran itu terbuyarkan oleh suara yang cukup
keras.
“hey kamu anak baru, cepat kesini.”
Akupun
menoleh kekanan dan kekiri berharap yang dipanggil itu bukan aku. Namun
nyatanya,
“kamu yang cewek lagi liat kiri kanan”.
Akupun tertunduk berjalan menuju barisan kakak
senior yang terlihat sedikit sadis dimataku.
“kamu tau kan salah kamu apa?”
Akupun hanya tertunduk ketika pertanyaan itu
menyerang telingaku.
Blaa.. blaa.. blaaa.. ceramahan itu hanya
terdengar samar olehku. Sesekali aku menoleh kebarisan pria yang tepat berbaris
disebelah kananku. Berharap bisa melihatnya. Iya, dia yang membuat hari pertama
aku menduduki bangku SMA menjadi indah. Berharap bisa melihatnya, akupun
berdiri menginjitkan kakiku. Manaa,, dia dimanaa?? Aku tak dapat menangkap
sosok malaikat penghipnotis itu.
Kecewa tak
bisa melihatnya, akupun duduk dengan meninggikan lutut yang dilingkari
tanganku. “kamu mau cari siapa?”. Pertanyaan itu terdengar jelas di telinga
kiriku. Spontan aku menoleh kearah suara itu, dan kudapati sosoknya yang putih,
sedang memandang heran barisan cowok yang ada di sebelah kananku. “apa kamu
mencari seseorang?” satu pertanyaan lagi terdengar merdu ditelingaku. Akupun
langsung menggeleng spontan ketika senyum itu hadir di akhir pertanyaannya.
Akupun menundukkan kepalaku malu. Perlahan ku pandangi sosok pria itu. Pria
yang benar-benar membuatku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya diam, ketika
sosok yang nyaman itu duduk di sebelahku dengan senyuman penghipnotisnya.
Tuhan, siapa
dia?? Apa dia adalah malaikat yang kau kirim untukku. Terbuat dari apa dia yang
bisa membuatku merasa tertarik untuk memandanginya. Cahaya apa yang ada
didirinya yang membuat mataku berbinar indah ketika melihatnya. Ada apa
denganku? Apa yang terjadi padaku? Apa aku jatuh CINTA?? Sejenak
pertanyaan-pertanyaan itu terucap manis dibatinku. Tersadar senyum itu masih memandangku,
akupun menundukkan kepalaku.
“hmm.. apa kamu
lelah?”
pertanyaan
itu terdengar lembut di telingaku. Mungkin aku sedikit heran, dari tadi kami
bersama, apa tidak ada sedikitpun terniat olehnya untuk mengetahui namaku??.
“ya, aku
sedikit lelah”
Akupun membalas senyum manisnya yang sedari
tadi bersungging dihadapanku. Keheninganpun hadir lagi, dan itu membuatku merasa
bosan.
“hmm, aku Cand, Candy Alexander. Siapa
namamu?”
Dengan senyum hipnotisnya, iya menyodorkanku
permen tangkai rasa strobery. Ini, ini dia yang sedari tadi aku tunggu. Ini
dia, akhirnya pertanyaan itu terucap dari pemilik senyum penghipnotis itu. Akupun
menyunggingkan senyuman dengan lebar padanya.
“than’s.. Aku
Jea, Jea Candya”
sambil membuka bungkus permen strobery yang
dia beri padaku.
“nama yang manis”
Dengan senyum
penghipnotisnya, ia menatapku dalam. Aku terdiam dalam senyuman yang hangat
itu.
Entah kenapa aku merasa nyaman dengannya.
Tidak biasanya aku merasa nyaman dengan seseorang yang baru saja aku kenal.
Waktu SD dan SMP, aku tak pernah merasa senyaman ini dengan seseorang yang baru
saja aku kenal. Selain Jeby, sahabat karibku dari kecil dan kakakku Jeo, tidak
ada lagi yang bisa membuatku merasa nyaman. Aku memang susah untuk bergaul
dengan teman pria, dari kecil aku takut dengan yang namanya pria. Mungkin itu
karena Ayah. ketika aku masih berumur 3 tahun, waktu ayah masih bersamaku.
Ayah sering
memukuli ibuku. Entah kenapa, aku menjadi takut dengan yang namanya pria.
Terakhir ayah memukuli ibu adalah saat aku berumur 4 tahun, semenjak ia memukul
ibu untuk yang terakhir kalinya itu, ia pergi dan sampai sekarang tidak pernah
kembali. Sekarang aku tinggal dengan ibu dan kakak lelakiku. Kakakku itulah
yang menjadi ayah skaligus kakakku saat ini. Selain Jeby dan kak Jeo, tidak ada
lagi pria yang dekat denganku. Dan sekarang, Dia….!!.
Sejenak kami
larut dalam keheningan, dan tiba-tiba keheningan itu terbuyarkan oleh tawa
kecil dari senyuman penghipnotis itu.
“Jea Candya, Candy Alexander. Apa ini
pendapatku saja? Kalau nama kita ada sedikit kemiripan, hmm??” dengan alis
sedikit meyakinkan ia melihat kearahku.
Akupun terdiam dan berfikir lebih dalam. Kalau
difikir, nama kami emang ada sedikit kemiripan, Candy Alexander & Jea
Candya. Kalau hanya ada nama belakangku, dan itu tidak ditambah huruf A, dia
akan menjadi Candy, dan Candy Alexander, jika Candy ditambah Huruf A yang
brasal dari nama belakangnya Alexander akan menjadi Candya. Ini memang bukan
rekayasa, apa mungkin ini Cuma kebetulan atau bagaimana?.
“hmm.. kalo aku fikir-fikir, nama kita memang
sedikit ada kemiripan”
akupun
membalas tawanya. Saat ini aku ingin berfikir lebih dalam lagi, dalam hati aku
bertanya-tanya. “Siapa dia, siapa pria yang punya senyum indah didepanku ini.
Siapa dia yang membuatku merasa nyaman ini. Apakah mungkin dia malaikat. Siapa
dia, oh Tuhan siapa dia.
Jeby, hah!!
Jeby mana. Tiba2 terlintas difikiranku nama itu. Akupun melihat kiri kananku,
berharap bisa melihat sosok pria tinggi kuning langsat itu. Jeby sekarang satu
sekolah denganku, SD aku juga satu sekolah dengannya dan itupun satu kelas.
Waktu itu, aku menagis meminta untuk satu kelas dengannya. Mungkin sedikit
berlebihan, tapi waktu itu aku memang menangis tersedu-sedu untuk bisa satu
kelas dengannya. Tapi, ketika kami lulus SD, Jeby lulus disekolah terfavorit.
Dan aku, lulus disekolah yang berbeda. Dan sekarang, kami bertemu lagi.
Ting..
ting.. ting..!!
Nada pesan
masuk HP ku. Akupun segera memencet tombol baca.
“hey,
nyariin gua ya?? Haha”
Akupun
mencari sosoknya dengan kesal.
“ishh.. Lo
mau gua gigit? Lo dimana woy? Gua kangen nih”
Nada
pesankupun berbunyi lagi.
“ciee..
cie.. udah bisa dekat ama cowok ya?”
Dengan cepat
aku mengetik pesan, dan mungkin pria disebelahku tertawa melihatku.
“woy, gua
Tanya lu dimana. Cepat kasih tau gua”
Sudah
beberapa menit,nada pesanku tidak berbunyi lagi. Ini memang menyebalkan.
Tapi..
sejenak aku melihatnya lagi, menatap tiap geraknya. Mencoba untuk mendengar
desah nafasnya. Dia, ada dia disini. Dia tepat disebelahku. Tapi dia.
Pertanyaankupun teringat lagi. Dia siapa. Siapa dia.
Akupun
hening, dan. . .
“ini gua”
Jeby, seperti biasa dia mengagetkanku. Ini
sungguh menyebalkan. Jeby selalu begitu, dengan khasnya yang sok cool dia
mengagetkanku. Jeby pun duduk
disebelahku.
“lo tadi
dimana?”
Jeby tidak segera menjawab pertanyaanku, dia
menatap pria disampingku yang sedang melihat murid-murid yang sedang dihukum
dengan raut muka menggoda.
“dia
temanku”
Cand pun melihat heran padaku, dan ketika
mendapati Jeby disebelahku, diapun tersenyum lebar padanya. Dan seperti biasa,
senyum itu menghipnotisku lagi dan lagi. Ia pun mengulurkan tangannya ke pria
rambut lurus disebelahku.
“Cand”
Jeby pun meraih tangan pria yang mengenakan
jam tangan hitam itu.
“Jeby”
merekapun saling membalas senyum.
“gua sahabat gadis permen ini, haha”
diapun
tertawa keras. Huah,.. ini memang sedikit menyebalkan. Aku dibilang gadis
permen. Tapi aku memang suka permen. Ditasku slalu ada permen, cemilan yang
paling aku suka memang Cuma permen. Pada coklat aku tak terlalu suka. Karna
rasanya yang agak pahit. Selain permen aku suka keju. Tapi rasa keju tak seenak
permen kesukaanku.
“apa dia
pecinta permen? Sampai namanya gadis permen?”
Tawa itu,
huahh.. membuatku tersenyum dengan sendirinya.
“yap. Dia
bukan hanya cinta. Mungkin tanpa ada permen dia tak hidup. Haha”
Jeby
mencorotoskan mulutnya untuk mengejekku. Rasanya pengen aku gigit tangannya
yang sedang mengelus kepalaku. Jeby memang suka memegang kepalaku, seakan-akan
aku adiknya yang manis dan imut, hehe.
“ishh,..
dasar tukang tidur”
Akupun membalas ejekannya
dengan kesal.
”hmm.. ternyata begitu
ya.!”
Suara pelan itu keluar dari mulut pria
penghipnotis itu.
“begitu
apanya? Apa kamu juga mau mengejekku?”
dengan kesalnya aku mencerotos tak tentu.
Tiba-tiba tangan hangat itu, mengusap kepalaku. Hah.. tangan hangat itu,
membuat darahku seakan membeku dikala ia menyentuhku. Aku terdiam melihat
senyumnya. Selalu saja senyum itu yang bisa merubahku hari ini. Beberapa detik
kemudian.
“aku juga
sama sepertimu”
Iapun tidak meneruskan perkataannya yang
membuatku penasaran.
“sama sepertiku?”.
Dengan polosnya aku menatapnya dalam. Diapun
tersenyum lebar padaku. Aku masih saja menatapnya dengan heran.
Iapun
membuka tas yang ada dipangkuannya.
“ini”
Dengan senyum khasnya, ia mengeluarkan
beberapa permen tangkai yang biasanya juga ada di tasku. Akupun tersenyum lebar
melihatnya. Waktu yang ku rasakan saat ini, tak inginku lewatkan begitu saja.
Waktu ini, ingin ku ulang, ulang dan ulangi. Dia yang membuat waktuku terasa
berhenti. Berhenti saat aku menatapnya. Apa ini yang namanya cinta? apa aku sedang
jatuh cinta?. Jika itu memang cinta, mungkinkah ini hanya sementara.?
“Selamat
Pagi semua Perkenalkan nama saya ..”
